Sepuluh Persen Masyarakat Amerika Menggunakan Antidepresan
Written by Anne Harding Wednesday, 16 December 2009 07:00

Karena depresi sendiri merupakan faktor tak terbantah penyebab kematian dini, penyakit jantung dan penyakit ikutan lainnya, penulis penelitian ini memberikan pernyataan kepada Reuters Health bahwa temuan baru ini bukan merupakan satu alasan bagi para pasien wanita lanjut usia untuk menghentikan pengobatan.
“Para wanita tidak disarankan untuk menghentikan pengobatan berdasarkan satu penelitian ini saja,” demikian pernyataan Dr. Jordan W. Smoller dari Massachussets General Hospital di Boston pada sebuah wawancara. “ Apa yang dihasilkan oleh sebuah penelitian adalah untuk memberikan informasi yang lebih luas pada pasien dan dokter tentang kalkulasi untung rugi pengobatan depresi pada wanita lanjut usia.”
Penggunaan antidepresan di Amerika Serikat telah meningkat lebih dari 5 kali lipat sejak awal 1990, Smoller dan koleganya menggarisbawahi hal ini dalam laporan mereka di Archives of Internal Medicine.Antidepresan golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti Prozac dan Zoloft saat ini adalah obat-obatan antidepresan yang digunakan oleh mayoritas pasien. Antidepresan golongan SSRI ini digunakan untuk menggantikan jenis pengobatan lama yang biasa disebut antidepresan trisiklik yang dapat membahayakan jantung.
Tetapi masih sangat sedikit fakta yang diketahui tentang efek SSRI terhadap kesehatan jantung, terutama pada wanita pasca menopause, yang memiliki peningkatan risiko penyakit jantung dan depresi.
Dalam melakukan investigasi, Smoller dan tim-nya mengambil sampel 136.239 wanita yang bergabung dalam Women’s Health Initiative, sebuah penelitian yang mencermati kesehatan wanita pasca menopause. Tidak satupun wanita dalam kelompok tersebut menggunakan antidepresan.
Dalam masa penelitian, yang berlangsung selama kira-kira 6 tahun, 5.496 partisipan mulain menggunakan antidepresan. Sementara tidak ada asosiasi antara penggunaan antidepresan dengan penyakit jantung, para peneliti menemukan fakta bahwa konsumen SSRIs memiliki peningkatan risiko 45% mengalami serangan stroke dan peningkatan 32% meninggal karena sebab-sebab yang lain selama masa penelitian, dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan antidepresan.
Penggunaan antidepresan trisiklik walaupun tidak pernah dilaporkan memiliki asosiasi dengan serangan stroke, tetapi didapati meningkatkan 67% risiko kematian selama masa penelitian.
Penting untuk diingat, demikian pernyataan Smoller, bahwa angka-angka tersebut menunjukkan “risiko relatif”. Risiko sebenarnya dari serangan stroke atau kematian pada wanita yang menggunakan pengobatan antidepresan lebih tinggi dari wanita yang tidak menggunakannya. Tetapi perbedaan ini cukup tipis.
Sebagai contoh, Smoller menerangkan, selama 6 tahun penelitian, persentase kematian pada wanita yang tidak menggunakan antidepresan sebesar 0.8%, dibandingkan dengan angka 1.2 - 1.4% pada wanita yang menggunakannya. Sementara 0.3% wanita yang tidak menggunakan SSRI mengalami serangan stroke pada tahun tertentu, pada wanita yang menggunakan SSRIs persentase serangan stroke yang dialami adalah 0.42% yang terjadi satu kali dalam setahun.
Keterbatasan penemuan ini, imbuh Stroller, adalah efek-efek yang diteliti terkait penggunaan antidepresan mungkin juga berhubungan dengan fakta bahwa para wanita pengguna antidepresan tersebut memiliki faktor risiko yang tidak terdeteksi – seperti faktor depresi itu sendiri. Peningkatan risiko kematian dan serangan stroke yang berhubungan dengan depresi itu sendiri, menurut Smoller, berbanding lurus dengan faktor penggunaan antidepresan pada penelitian tersebut.
Apapun hasil penelitian tersebut, Smoller menegaskan, relasi antara antidepresan dan kematian harus diselidiki lebih lanjut. “Lebih dari 10% masyarakat AS menggunakan antidepresan,” demikian pernyataan Smoller. “Antidepresan adalah pengobatan kategori penting yang perlu kita pahami dengan lebih baik.”. (Anne Harding - Reuters Health, YS)
Sumber: Archives of Internal Medicine, December 14/28,2009


