Geliat Komunitas Pengguna NAPZA Solo
Last Updated on Monday, 01 February 2010 23:10 Written by Anggada Erickson Wednesday, 31 December 2008 03:36
29 Oktober 2008 di Tawangmangu (Solo) Jawa Tengah, atas undangan Komunitas Pengguna NAPZA Solo, PERFORMA mengadakan diskusi mengenai Pengorganisasian Masyarakat. Suasana rumah makan yang nyaman, ditambah udara pegunungan yang sejuk juga pemandangan indah nan asri, membawa alur diskusi menjadi menyenangkan. Apalagi ketika kopi hangat dan nasi goreng teri pedas yang menemani peserta diskusi.
Hujan yang turun sore itu terasa hangat oleh topik pembicaraan kami. Diskusi dimulai dari perkenalan masing-masing peserta, baik dari PERFORMA maupun dari komunitas Solo yang hadir pada saat itu. Dari PERFORMA yang hadir adalah Yvonne, Robin, dan Angga, dan hadir beberapa anggota dari Komunitas Pengguna NAPZA Solo. Diskusi dilanjutkan dengan berbagi pengetahuan dan gambaran situasi yang berkembang saat itu di kota Solo.Satu persatu peserta diskusi menyampaikan informasi sekitar situasi NAPZA dan keadaan umum pengguna NAPZA di kota Solo. Diskriminasi dan stigma yang selama ini mereka peroleh dari lingkungan masyarakat dan dari aparat keamanan, membuat mereka sulit untuk berkembang atau berbuat lebih jauh bagi komunitasnya.
Setelah berbagi permasalahan dan situasi terkini, PERFORMA melihat setitik cahaya terang bagi perkembangan Komunitas Pengguna NAPZA Solo. Pengetahuan mengenai NAPZA, baik dari aspek Hukum, Sosial Budaya, Ekonomi, dan aspek lainnya telah banyak mereka serap. Pembelajaran pribadi yang mereka peroleh dari buku-buku, internet, dan tukar pikiran dengan sesama komunitas pengguna NAPZA menjadi dasar yang kokoh untuk membangun pondasi sebuah komunitas marjinal.
PERFORMA terkejut bercampur kagum dengan pengetahuan yang mereka miliki, karena walaupun belum memiliki organisasi atau wadah sebagai tempat berbagi dan bertukar pengalaman, tetapi cara berpikir dan cara pandang terhadap suatu topik NAPZA yang mereka angkat benar-benar padat dan menyeluruh, sehingga membuat diskusi yang berlangsung menjadi hidup dan bersemangat.
Di akhir diskusi, Komunitas Pengguna NAPZA Solo menyatakan bahwa mereka ingin membentuk suatu wadah yang lebih terorganisir, dimana mereka dapat mengembangkan kapasitas, dan menyalurkan aspirasi dan pikiran mereka untuk menghapus tanpa stigma dan diskriminasi.
Komunitas Pengguna Napza Solo meminta dukungan PERFORMA Semarang untuk membantupengorganisasian komunitas pengguna NAPZA di kota Solo. Materi-materi pelajaran dasar seperti pengorganisasian masyarakat, pendidikan paralegal, pengetahuan HAM Dasar dan lain-lain yang mereka butuhkan diharapkan dapat disediakan oleh PERFORMA.
Harapan ini disambut baik oleh PERFORMA, melihat keseriusan dan harapan mereka akan visi yang mereka miliki. Komunitas Pengguna Napza Solo yang selama ini seakan tertidur, telah terlihat geliat semangat untuk menyongsong harapan baru yang lebih baik untuk memiliki kesetaraan posisi dengan anggota masyarakat lainnya. (AE/YS)

| < Prev | Next > |
|---|




